Simple Clock

Selasa, 17 Mei 2011

Berpikir Kausalitas vs Berpikir Kontingensi



Cara berpikir kausalitas adalah berpikir dengan hukum sebab-akibat. Sebuah kejadian diawali ‘sebab’ yang menimbulkan ‘akibat’. Sementara, cara berpikir kontingensi, secara sederhana, adalah berpikir bahwa sebuah kejadian terjadi oleh sebab yang beragam (kontingen).

Ambil contoh dalam peristiwa x + y = 4.

Dengan menggunakan logika kausalitas, anda dapat menggantikan x dan y dengan angka 2. Dengan kata lain, yang menyebabkan 4 (akibat) adalah angka 2 dan penjumlahan (tanda +). Logika kausalitas akan terfokus pada tanda ’=’, sehingga pola pertanyaannya adalah ”berapakah x dan y?”.

Namun jawaban akan lain dengan logika kontingensi yang fokus pada pertanyaan ”apakah x dan y?” terlebih dahulu. Dengan mengajukan pertanyaan tersebut, x dan y dapat dipertimbangkan sebagai bilangan pecahan atau bilangan utuh, atau bilangan negatif atau positif dan tidak hanya angka 2. Misalnya; 1 ½ + 2 ½ = 4 atau 8 + (- 4) = 4.

Dengan mengenali ’apakah x dan y’ dengan baik (dan bukan fokus pada ’=’), anda pun memerlukan berlembar-lembar buku untuk menulis jawaban dari peristiwa di atas. Anda memerlukan kontingensi jawaban dari x + y = 4!
Beberapa poin penting yang patut dicatat adalah:

1. Meski berpikir kontingensi menolak prinsip kausalitas (sebab-akibat), berpikir kontingensi tidak sama dengan “menolak alasan”! Berpikir kontingensi tidak ’pasrah’ mengakui bahwa semua terjadi dengan sendirinya tanpa alasan apapun.

2. Dengan memahamai seni kontingensi peristiwa x+y=4, dimana terdapat banyak jawaban untuk x dan y. Serangan cara berpikir kontingensi terhadap cara berpikir kausalitas sebenarnya ditujukan pada rumusan terkenal kausalitas yakni ”sebab mendahului akibat”. Dengan adanya banyak jawaban terhadap x+y=4, pada FAKTA-nya ” akibat (4) selalu mendahului sebab”. Karena sebab selalu dicari oleh manusia setelah sesuatu yang ia namai sebagai ’akibat’ datang kepadanya.

3. Dengan banyaknya sebab, apakah dengan demikian cara berpikir kontingensi mengasumsikan manusia merdeka –karena jawaban/sebab kini tergantung manusia? Sama sekali tidak (dalam kacamata Foucault dikenal prinsip "Discourse is no inside"). Bagaimanapun beragamnya sebab/ jawaban yang dipilih manusia, semua tergantung pada rumusan x+y=4. Jawaban terhadap rumusan itu tidak akan keluar dari rumusan tersebut (dalam kacamata Foucault dikenal prinsip "Discourse is no outside").


*)gambar diunggah dari www.michel-foucault.com

5 komentar:

Kunto Adi Wibowo mengatakan...

kenapa harus berpikir kontingensi? apakah karena semata-mata menolak kausalitas atau ini teknik yang lahir dari tujuan atau kecelakaan tertentu?

Holy Rafika mengatakan...

demi pengertian bahwa ketika saya mengatakan sebab, ia bukanlah sebab melainkan kata-kataku. dan akhirnya ketika saya menyatakan kebenaran, ia bukanlah kebenaran melainkan "pernyataanku".*Komentne lagi ketok, dadi mbalese yo telat. hehehe

Kaoki mengatakan...

wacana artikel di atas apakah menurut penalaran Penulis atau mengambil dari sumber tertentu? bisa minta referensinya...??!! dan apa keterkaitan Tokoh pada gambar di atas dengan artikel ini....??!!

jujur saya masih blom bisa menegerti artikel di atas....

Kaoki mengatakan...

apa keterkaitan tokoh pd gambar di atas dgn artikel ini?

dan apakah artikel ini menurut pemahaman penulis atau menurut referensi tertentu? bisa minta referensinya...??

jujur saya masih bingung dgn artikel ini....

Holy Rafika mengatakan...

tentu saja interpretasi saya.
Untuk Referensi:
lihat penjelasan

1) Kendall, Gavin, & Wickham, Gary. (1999). Using Foucault's methods. London: Sage Publications. (hal 6-9)

2) Mills Sara. 2003. Michel Foucault. New York. Routledge ( hal: 51)

3) Gutting, Gary. 2005. Foucault: A Very Short Introduction New York : Oxford University Press (hal: 50)

nuhun